2 Hal Pemeriksaan Laboratorium Diabetes Melitus

Pemeriksaan laboratorium diabetes melitus merupakan diagnosis melalui metode dan alat tertentu untuk mendapatkan keputusan apakah seseorang menderita diabetes atau tidak.

Diagnosis diabetes melalui tes laboratorium memiliki tingkat keakuratan yang tinggi, sehingga kita mendapatkan kepastian.

Selain itu, lewat diagnosis diabetes juga kita dapat mengetahui tipe diabetes mana yang diderita serta dapat diketahui faktor penyebabnya.

Diagnosis diabetes melalui tes laboratorium memang cukup mahal, tapi mengingat hasilnya yang bisa dipertanggungjawabkan maka hal ini sangat perlu diperlukan.

Secara garis besar, diagnosis diabetes dilakukan dengan dia cara, yaitu tes urine dan tes darah. Berikut kita simak penjelasannya.

2 Pemeriksaan Laboratorium Diabetes Melitus

1. Tes Urine

Tes urine adalah tes laboratorium yang dilakukan dengan mengambil sampel urine sebagai bahan pemeriksaannya. Di sini sampel urine dari pasien digunakan untuk mengetahui kandungan gula di dalam urine, Tes ini meliputi uji Benedict dan uji Dipstick.

  • Uji Benedict

Uji benedict adalah uji kimia untuk mengetahui kandungan gula (karbohidrat) pereduksi. Gula pereduksi meliputi semua jenis monosakarida dan beberapa disakarida seperti laktosa dan maltosa.

Nama Benedict merupakan nama seorang ahli kimia asal Amerika, Stanley Rossiter Benedict (17 Maret 1884-21 Desember 1936).

Benedict lahir di Cincinnati dan studi di University of Cincinnati. Setahun kemudian dia pergi ke Yale University untuk mendalami Physiology dan metabolisme di Department of Physiological Chemistry.

Pada uji Benedict, pereaksi ini akan bereaksi dengan gugus aldehid, kecuali aldehid dalam gugus aromatik, dan alpha hidroksi keton.

Oleh karena itu, meskipun fruktosa bukanlah gula pereduksi, namun karena memiliki gugus alpha hidroksi keton, maka fruktosa akan berubah menjadi glukosa dan mannosa dalam suasana basa dan memberikan hasil positif dengan pereaksi benedict.

Satu liter pereaksi Benedict dapat dibuat dengan menimbang sebanyak 100 gram sodium carbonate anhydrous, 173 gram sodium citrate, dan 17.3 gram copper (II) sulphate pentahydrate, kemudian dilarutkan dengan akuadest sebanyak 1 liter.

Untuk mengetahui adanya monosakarida dan disakarida pereduksi dalam makanan, sample makanan dilarutkan dalam air, dan ditambahkan sedikit pereaksi benedict. Dipanaskan dalam waterbath selamaa 4-10 menit.

Selama proses ini larutan akan berubah warna menjadi biru (tanpa adanya glukosa), hijau, kuning, orange, merah dan merah bata atau coklat (kandungan glukosa tinggi).

Sukrosa (gula pasir) tidak terdeteksi oleh pereaksi Benedict. Sukrosa mengandung dua monosakrida (fruktosa dan glukosa) yang terikat melalui ikatan glikosidic sedemikian rupa sehingga tidak mengandung gugus aldehid bebas dan alpha hidroksi keton. Sukrosa juga tidak bersifat pereduksi.

Uji Benedict dapat dilakukan pada urine untuk mengetahui kandungan glukosa.

Urine yang mengandung glukosa dapat menjadi tanda adanya penyakit diabetes. Sekali urine diketahui mengandung gula pereduksi, test lebih jauh mesti dilakukan untuk memastikan jenis gula pereduksi apa yang terdapat dalam urine. Hanya glukosa yang mengindikasikan penyakit diabetes.

  • Uji Dipstick

Uji benedict atau tes benedict digunakan untuk menunjukkan adanya monosakarida dan gula pereduksi.

Tembaga sulfat dalam reagen benedict akan bereaksi dengan monosakarida dan gula pereduksi membentuk endapan berwarna merah bata. Monosakarida dan gula pereduksi dapat bereaksi dengan reagen benedict karena keduanya mengandung aldehida ataupun keton bebas.

Hasil positif ditunjukkan dengan perubahan warna larutan menjadi hijau, kuning, orange, atau merah bata dan muncul endapan hijau, kuning, orange atau merah bata.

Uji benedict pertama kali ditemukan oleh seorang ahli kimia Amerika bernama Stanley Rossiter Benedict. Semua jenis monosakarida akan menunjukkan hasil positif dengan uji benedict, disakarida pereduksi seperti maltosa dan laktosa juga menunjukkan hasil positif. Disakarida non pereduksi seperti sukrosa dan jenis-jenis polisakarida tidak bereaksi positif dengan uji ini.

Apabila anda belum memahami perbedaan monosakarida dan disakarida silahkan baca artikel Jenis Karbohidrat Berdasakan Jumlah Molekul Gulanya.

Uji benedict dapat digunakan untuk mendeteksi adanya gula dalam urin.

Apabila urin diuji dengan uji benedict menunjukkan hasil positif dapat menjadi pertanda adanya kelainan yang biasa disebut diabetes mellitus. Urin yang digunakan untuk uji benedict harus urin 24 jam, yaitu apabila kita bangun tidur, urin pertama kita buang sedangkan urin kedua hingga urin pertama pada keesokan harinya kita tampung untuk dilakukan uji benedict.

Uji benedict digunakan untuk menentukan adanya glikogen dalam urine dan uji dipstick digunakan untuk memastikan adanya gula dalam urine.

2.Tes Darah

Jika tes urine dilakukan dengan mengambil sampel urine, maka tes darah dilakukan dengan memakai sampel darah sebagai bahan pemeriksaan.

Sampel darah pasien diambil untuk diperiksa kadar gulanya.

Tes darah dilakukan dengan pengambilan sampel darah dua kali yaitu pengambilan sampel darah pertama dilakukan setelah sebelumnya seseorang berpuasa selama 8-12 jam (ini biasa disebut Gula Darah Puasa/GDP). Lalu pengambilan sampel darah kedua dilakukan 2 jam setelah makan (2h Glucose).

Setelah dilakukan pemeriksaan sampel darah, kadar gula darah akan dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kadar normal, pradiabetes, dan diabetes.

Kadar normal adalah suatu kondisi dimana kadar glukosa darah yang ada mempunyai resiko kecil untuk dapat berkembang menjadi diabetes atau menyebabkan munculnya komplikasi lain, artinya kadar gula darah berada di wilayah aman.

Pradiabetes didefiniskan sebagai kondisi dimiana kadar gula darah seseorang lebih tinggi dari normal tetapi tidak cukup tinggi untuk dapat didiagnosis diabetes.

Pada kondisi pradiabetes ini, seseorang mempunyai resiko tinggi untuk terjangkit diabetes walaupun ada kasus yang menunjukkan kadar gula darah dapat kembali ke keadaan normal.

Seseorang yang kadar gula darahnya termasuk dalam kategori pradiabetes juga mempunyai resiko terkena penyakit jantung dan pembuluh darah yang sering mengiringi penderita diabetes.

Kondisi pradiabetes dapat berkembang menjadi diabetes tapi dapat juga tidak, tergantung dari pengelolaan kadar gula darah selanjutnya.

Terakhir, kondisi diabetes adalah kondisi dimana kadar darah seseorang sudah tinggi di luar ambang batas normal dan pradiabetes.

Pada kondisi ini seseorang sudah divonis mengidap diabetes dan beresiko tinggi terkena penyakit diabetes dan komplikasi lainnya.

Semoga sehat selalu.

BACA JUGA :

Related Post

MARI Mengenal Gejala dan Jenis Diabetes Melitus, S... Diabetes mellitus adalah suatu penyakit dimana tubuh tidak dapat menghasilkan insulin (hormone pengatur gula darah) atau insulin yang dihasilkan tid...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *